KEJUJURAN
Hay, aku Zaira. Umur
aku baru 8 tahun, aku punya sahabat namanya Nita. Nita teman yang sangat baik,
tidak hanya itu dia juga tidak pelit padaku. Kalau dia punya makanan enak pasti
dia bagi juga untuk aku. Aku sudah berteman lama dengan dia, kami berteman
sejak masih di TK dulu. Pokoknya kami
selalu bareng-bareng, pulang sekolah juga bareng karena rumah kami tidak
terlalu jauh dari sekolah jadi kami selalu pulang bareng. Kalo berangkat
sekolah biasanya aku diantar ayah, dan Nita di antar ibunya. Nita itu baik, dan
sangat menyenangkan. Aku sangat senang berteman dengannya.
Sore ini aku mau pergi
bermain ke rumah Nita. Tapi sebelumnya aku harus ijin dulu kepada Ibu, agar ibu
tidak bingung mencari aku saat aku pergi ke rumah Nita nanti. Setelah mendapat
ijin dari ibu, aku pun bergegas pergi ke rumah Nita. Oh iya saat aku meminta
ijin tadi Ibu berpesan “Nita jangan pulang telat, jam 4:30 kamu harus sudah
pulang, hati-hati dijalan” “Baik Bu. Nita tidak akan pulang telat, Nita jalan
dulu bu” jawabku. Ibu memperbolehkan aku jalan setelah PR ku sudah ku kerjakan.
Tapi bila aku kesulitan dalam
mengerjakan PR ibu pasti membantuku menyelesaikannya.
Setelah berjalan melewati 5 rumah, akhirnya aku sampai di rumah
Nita. Nita punya banyak mainan, dari monopoli, boneka, dan masak-masakan dia
punya. Jadi kami tidak bingung mau main apa. Sore itu kami main Boneka,kami
sangat asyik bermain sore itu. Lalu tak lama Nita di panggil ibunya untuk
membantu ibunya membelikan garam di warung Bu Inun yang tidak jauh dari
rumahnya. Nita pun memintaku menunggunya sebentar sambil bermain boneka selagi dia membelikan garam
untuk ibunya. “ Sebentar ya Za, aku pergi dulu, kamu main sendiri dulu ya tidak
lama kok” Akupun mengiyakan
permintaannya, aku pun asyik bermain dengan boneka tapi saat sedang bermain aku
tidak sengaja merusak boneka Nita. Aku takut sekali, aku takut bila Nita tahu
aku merusaknya, Nita akan marah dan tidak lagi mau berteman denganku. Aku bingung
harus bagaimana.
Akhirnya aku menunggu Nita pulang dengan perasaan sangat cemas dan
jantung yang berdebar-debar. Aku akan mengatakan kepada Nita bahwa aku tidak
sengaja merusak bonekanya. Aku harus jujur, walaupun Nita akan marah besar dan
tidak mau berteman dengan aku lagi, yang terpenting aku harus jujur. Karena ayah
dan ibu selalu mengajarkan dan menyuruhku untuk selalu jujur. Aku sudah
membereskan boneka yang kami mainkan tadi ke dalam box, aku menyembunyikan
boneka yang ku rusak tadi ke tumpukan paling bawah agar tertutup dengan boneka
yang lain.
Tak lama Nita pun datang, aku pun menyambutnya, Nita pun bertanya
mengapa aku duduk di luar dan kenapa tidak lanjut bermain lagi. Sebenarya aku
sudah ingin berkata jujur dan mengakui kesalahanku yang telah merusak
bonekanya, tapi entah mengapa aku terlalu takut untuk berkata jujur hingga
akhirnya aku pun malah mengatakan aku ingin pulang saja karena sudah sore, padahal
itu baru jam 4 kurang 10 menit, tidak biasanya aku pulang secepat itu, karena
biasanya aku pulang dari rumah Nita jam 4 lebih 15 menit. Aku sangat takut sore
itu, bahkan ketakutanku mengalahkan keberanianku untuk berkata jujur kepada
Nita. Saat aku bilang mau pulang, Nita pun mengiyakan tanpa menaruh curiga
padaku. Bahkan dia mengatakan “Hati-hati
di jalan ya Za, besok main lagi kesini”, aku tidak menajawab apapun selain
membalasnya hanya dengan senyum kecilku.
Sesampainya di rumah, aku masih memikirkan boneka Nita yang ku
rusak itu, aku masih sangat bingung dan ketakutan. Akhirnya aku menceritakan
semuanya pada ibu. Ibu pun bertanya mengapa tak jujur saja pada Nita. Aku jawan
karena aku takut Nita akan marah dan tidak lagi mau berteman denganku. Ibu pun
akhirnya menasehatiku, dan menyuruhku untuk jujur kepada Nita besok di sekolah.
Ibu juga membelikan boneka baru untuk mengganti boneka Nita yang ku rusakkan
tadi sore. saat menjelang tidur aku berdoa kepada Tuhan, semoga besok Nita mau
memaafkanku dan masih mau berteman dengan ku. Ibu pun menasehatiku tadi sore.
kata ibu anak yang jujur pasti disenangi oleh temaannya, dan yang pandai
berbohong biasanya tak memiliki teman Karena tidak ada yang menyukainya. Aku jadi
semakin takut bila aku berbohong bisa saja Nita malah menjauhi ku dan tidak
menyukai aku lagi.
-----------------------------------Keesokan Harinya---------------------------------------------
Pagi ini aku harus berangkat lebih cepat dari Nita, karena aku yang
meminta ayah untuk berangkat lebih cepat hari ini. Ayah hanya mengiyakan tanpa bertanya lagi,
mungkin ibu sudah menceritakan kepada ayah bahwa aku telah merusak boneka Nita
dan ingin berkata yang sebenarnya serta meminta
maaf atas kejadian itu. Ibu memang penolongku, dialah malaikatku, aku bahagia
memiliki ibu seperti Ibuku. Sebelum berangkat aku pun sudah memastikan peralatan
menulis, buku pelajaran dan buku PR tidak ada yang tertinggal, dan yang lebih
pentingnya lagi boneka untuk Nita yang sudah dibelikan oleh ibu tidak boleh
tertinggal juga. Aku pun siap untuk berangkat.
Sesampainya aku di sekolah aku langsung menunggu Nita, Nita duduk
bersebelahan dengan ku, jadi aku menunggunya dari tempat dudukku saja. Tidak
lama Nita pun datang, aku harus berani jujur kali ini, aku juga harus minta
maaf karena kemaren tidak langsung mengaku kesalahanku. Nita pun menyapa ku “ Hai
Za, wah pagi-pagi sudah berangkat nih” aku pun menjawab dengan sambil tersenyum
“Iya nih Nit, ayah mengantarku lebih cepat dari biasanya”. Kali ini aku harus
berani jujur kepada Nita, “ Nit, bolehkah aku jujur?” , Nita bingung kenapa aku
menanyakan hal itu, Nita pun menjawab “Tentu boleh Za, ada apa? Kenapa tiba-tiba
bilang begitu?”, “Begini Nit, kemaren saat kamu pergi membeli garam ke warung
Bu Inun, aku tidak sengaja merusak bonekamu. Maafkan aku Nit, aku tidak
mengatakan hal yang sebenarnya kemaren, malah aku langsung pamit pulang dan
menyembunyikan boneka yang rusak di tumpukan paling bawah box itu. Sebenarnya aku
sudah ingin mengatakannya, tapi aku terlalu takut kalo kamu marah dan tidak mau
lagi berteman dengan ku, jadi aku tidak berani mengatakannya. Maafkan Zaira ya
Nit”, “Ya ampun Zaira, masa hanya karena itu aku marah dan tidak mau berteman
denganmu, aku malah senang punya teman yang jujur seperti kamu. Tidak apa-apa
kok Za. Itu juga boneka sudah lama, jadi wajar saja kalo rusak. Sudah tidak
perlu dipikirkan lagi, nanti sore kita main bareng lagi ya. Apakah karena hal
itu Kemaren kamu buru-buru pulang?”, “Iya Nit, maaf ya aku tidak mengatakan
yang sebenarnya, tapi sekarang aku sudah lega karena kamu sudah memaafkanku. Oh
iya ini ada boneka dari ibu (sambil mengambil boneka di dalam tas) untuk
mengganti bonekamu yang ku rusakkan kemaren”, “ Wah bagus sekali, terimakasih
ya Za. Bonekanya bagus sekali”. Akhirnya aku bisa jujur dan meminta maaf secara
langsung pada Nita, ini semua berkat bantuan ibu dan ayah juga tentunya.Setelah
itu bel sekolah berbunyi, itu menandakan mulainya kegiatan belajar mengajar.
Ah leganya, akhirnya aku
bisa mengatakan yang sebenarnya kepada Nita, dan Nita pun tidak marah, dia juga
masih mau berteman denganku. Ternyata ayah dan ibu benar kejujuran itu pasti
membuahkan hasil yang baik. Ini pelajaran buatku, bahwa lebih baik berkata
jujur kepada sahabat daripada mengatakan yang tidak benar kepadanya. Bisa saja
dia menyukai kebohonganku, tapi saat dia mengetahui kebenaran dari kebohonganku
pasti dia akan berbalik membenci dan memusuhi ku. Aku tidak mau berbohong lagi,
aku tidak mau teman-temanku dan sahabatku membenciku hanya karena aku
berbohong.
Terima kasih ayah, terima
kasih Ibu, terima kasih bapak-ibu guru dan semuanya karena telah mengajarkan
nilai kejujuran kepadaku.