Kamis, 07 April 2016

cerpenku



KEJUJURAN

            Hay, aku Zaira. Umur aku baru 8 tahun, aku punya sahabat namanya Nita. Nita teman yang sangat baik, tidak hanya itu dia juga tidak pelit padaku. Kalau dia punya makanan enak pasti dia bagi juga untuk aku. Aku sudah berteman lama dengan dia, kami berteman sejak masih di TK dulu.  Pokoknya kami selalu bareng-bareng, pulang sekolah juga bareng karena rumah kami tidak terlalu jauh dari sekolah jadi kami selalu pulang bareng. Kalo berangkat sekolah biasanya aku diantar ayah, dan Nita di antar ibunya. Nita itu baik, dan sangat menyenangkan. Aku sangat senang berteman dengannya.
            Sore ini aku mau pergi bermain ke rumah Nita. Tapi sebelumnya aku harus ijin dulu kepada Ibu, agar ibu tidak bingung mencari aku saat aku pergi ke rumah Nita nanti. Setelah mendapat ijin dari ibu, aku pun bergegas pergi ke rumah Nita. Oh iya saat aku meminta ijin tadi Ibu berpesan “Nita jangan pulang telat, jam 4:30 kamu harus sudah pulang, hati-hati dijalan” “Baik Bu. Nita tidak akan pulang telat, Nita jalan dulu bu” jawabku. Ibu memperbolehkan aku jalan setelah PR ku sudah ku kerjakan.  Tapi bila aku kesulitan dalam mengerjakan PR ibu pasti membantuku menyelesaikannya.
Setelah berjalan melewati 5 rumah, akhirnya aku sampai di rumah Nita. Nita punya banyak mainan, dari monopoli, boneka, dan masak-masakan dia punya. Jadi kami tidak bingung mau main apa. Sore itu kami main Boneka,kami sangat asyik bermain sore itu. Lalu tak lama Nita di panggil ibunya untuk membantu ibunya membelikan garam di warung Bu Inun yang tidak jauh dari rumahnya. Nita pun memintaku menunggunya sebentar sambil  bermain boneka selagi dia membelikan garam untuk ibunya. “ Sebentar ya Za, aku pergi dulu, kamu main sendiri dulu ya tidak lama kok”  Akupun mengiyakan permintaannya, aku pun asyik bermain dengan boneka tapi saat sedang bermain aku tidak sengaja merusak boneka Nita. Aku takut sekali, aku takut bila Nita tahu aku merusaknya, Nita akan marah dan tidak lagi mau berteman denganku. Aku bingung harus bagaimana.
Akhirnya aku menunggu Nita pulang dengan perasaan sangat cemas dan jantung yang berdebar-debar. Aku akan mengatakan kepada Nita bahwa aku tidak sengaja merusak bonekanya. Aku harus jujur, walaupun Nita akan marah besar dan tidak mau berteman dengan aku lagi, yang terpenting aku harus jujur. Karena ayah dan ibu selalu mengajarkan dan menyuruhku untuk selalu jujur. Aku sudah membereskan boneka yang kami mainkan tadi ke dalam box, aku menyembunyikan boneka yang ku rusak tadi ke tumpukan paling bawah agar tertutup dengan boneka yang lain.
Tak lama Nita pun datang, aku pun menyambutnya, Nita pun bertanya mengapa aku duduk di luar dan kenapa tidak lanjut bermain lagi. Sebenarya aku sudah ingin berkata jujur dan mengakui kesalahanku yang telah merusak bonekanya, tapi entah mengapa aku terlalu takut untuk berkata jujur hingga akhirnya aku pun malah mengatakan aku ingin pulang saja karena sudah sore, padahal itu baru jam 4 kurang 10 menit, tidak biasanya aku pulang secepat itu, karena biasanya aku pulang dari rumah Nita jam 4 lebih 15 menit. Aku sangat takut sore itu, bahkan ketakutanku mengalahkan keberanianku untuk berkata jujur kepada Nita. Saat aku bilang mau pulang, Nita pun mengiyakan tanpa menaruh curiga padaku.  Bahkan dia mengatakan “Hati-hati di jalan ya Za, besok main lagi kesini”, aku tidak menajawab apapun selain membalasnya hanya dengan senyum kecilku.
Sesampainya di rumah, aku masih memikirkan boneka Nita yang ku rusak itu, aku masih sangat bingung dan ketakutan. Akhirnya aku menceritakan semuanya pada ibu. Ibu pun bertanya mengapa tak jujur saja pada Nita. Aku jawan karena aku takut Nita akan marah dan tidak lagi mau berteman denganku. Ibu pun akhirnya menasehatiku, dan menyuruhku untuk jujur kepada Nita besok di sekolah. Ibu juga membelikan boneka baru untuk mengganti boneka Nita yang ku rusakkan tadi sore. saat menjelang tidur aku berdoa kepada Tuhan, semoga besok Nita mau memaafkanku dan masih mau berteman dengan ku. Ibu pun menasehatiku tadi sore. kata ibu anak yang jujur pasti disenangi oleh temaannya, dan yang pandai berbohong biasanya tak memiliki teman Karena tidak ada yang menyukainya. Aku jadi semakin takut bila aku berbohong bisa saja Nita malah menjauhi ku dan tidak menyukai aku lagi.
-----------------------------------Keesokan Harinya---------------------------------------------
Pagi ini aku harus berangkat lebih cepat dari Nita, karena aku yang meminta ayah untuk berangkat lebih cepat hari ini.  Ayah hanya mengiyakan tanpa bertanya lagi, mungkin ibu sudah menceritakan kepada ayah bahwa aku telah merusak boneka Nita dan ingin berkata yang sebenarnya  serta meminta maaf atas kejadian itu. Ibu memang penolongku, dialah malaikatku, aku bahagia memiliki ibu seperti Ibuku. Sebelum berangkat aku pun sudah memastikan peralatan menulis, buku pelajaran dan buku PR tidak ada yang tertinggal, dan yang lebih pentingnya lagi boneka untuk Nita yang sudah dibelikan oleh ibu tidak boleh tertinggal juga. Aku pun siap untuk berangkat.
Sesampainya aku di sekolah aku langsung menunggu Nita, Nita duduk bersebelahan dengan ku, jadi aku menunggunya dari tempat dudukku saja. Tidak lama Nita pun datang, aku harus berani jujur kali ini, aku juga harus minta maaf karena kemaren tidak langsung mengaku kesalahanku. Nita pun menyapa ku “ Hai Za, wah pagi-pagi sudah berangkat nih” aku pun menjawab dengan sambil tersenyum “Iya nih Nit, ayah mengantarku lebih cepat dari biasanya”. Kali ini aku harus berani jujur kepada Nita, “ Nit, bolehkah aku jujur?” , Nita bingung kenapa aku menanyakan hal itu, Nita pun menjawab “Tentu boleh Za, ada apa? Kenapa tiba-tiba bilang begitu?”, “Begini Nit, kemaren saat kamu pergi membeli garam ke warung Bu Inun, aku tidak sengaja merusak bonekamu. Maafkan aku Nit, aku tidak mengatakan hal yang sebenarnya kemaren, malah aku langsung pamit pulang dan menyembunyikan boneka yang rusak di tumpukan paling bawah box itu. Sebenarnya aku sudah ingin mengatakannya, tapi aku terlalu takut kalo kamu marah dan tidak mau lagi berteman dengan ku, jadi aku tidak berani mengatakannya. Maafkan Zaira ya Nit”, “Ya ampun Zaira, masa hanya karena itu aku marah dan tidak mau berteman denganmu, aku malah senang punya teman yang jujur seperti kamu. Tidak apa-apa kok Za. Itu juga boneka sudah lama, jadi wajar saja kalo rusak. Sudah tidak perlu dipikirkan lagi, nanti sore kita main bareng lagi ya. Apakah karena hal itu Kemaren kamu buru-buru pulang?”, “Iya Nit, maaf ya aku tidak mengatakan yang sebenarnya, tapi sekarang aku sudah lega karena kamu sudah memaafkanku. Oh iya ini ada boneka dari ibu (sambil mengambil boneka di dalam tas) untuk mengganti bonekamu yang ku rusakkan kemaren”, “ Wah bagus sekali, terimakasih ya Za. Bonekanya bagus sekali”. Akhirnya aku bisa jujur dan meminta maaf secara langsung pada Nita, ini semua berkat bantuan ibu dan ayah juga tentunya.Setelah itu bel sekolah berbunyi, itu menandakan mulainya kegiatan belajar mengajar.
Ah  leganya, akhirnya aku bisa mengatakan yang sebenarnya kepada Nita, dan Nita pun tidak marah, dia juga masih mau berteman denganku. Ternyata ayah dan ibu benar kejujuran itu pasti membuahkan hasil yang baik. Ini pelajaran buatku, bahwa lebih baik berkata jujur kepada sahabat daripada mengatakan yang tidak benar kepadanya. Bisa saja dia menyukai kebohonganku, tapi saat dia mengetahui kebenaran dari kebohonganku pasti dia akan berbalik membenci dan memusuhi ku. Aku tidak mau berbohong lagi, aku tidak mau teman-temanku dan sahabatku membenciku hanya karena aku berbohong.
 Terima kasih ayah, terima kasih Ibu, terima kasih bapak-ibu guru dan semuanya karena telah mengajarkan nilai kejujuran kepadaku.

Kamis, 14 Januari 2016

UMM

Universitas Muhamadiyah Malang adalah salah satu universitas swasta bergengsi yang terdapat di daerah jawa timur, lebih tepatnya di kota Malang. Universitas ini sering disebut dengan UMM dan juga dengan Unmuh Malang. UMM juga merupakan salah satu universitas yang masuk kedalam daftar universitas atau perguruan tinggi impian bagi para siswa yang ingin melanjutkan studinya.
Di UMM kita akan menemukan banyak keberagaman, dari keberagaman suku, budaya dan ada juga lho mahasiswa yang berasal dari luar negeri, kurang Kece apa coba UMM ini. Yang kuliah disini juga bukan hanya mahasiswa yang beragama Islam lho. Walaupun terkesan sebagai Universitas Islam, namun UMM tidak hanya menerima mahasiswa yang beragama islam UMM juga menerima mahasiswa dari agama lain. Bisa dong bayangin gimana berwarnanya kalo kuliah disini. UMM itu mengajarkan dan membiasakan kita untuk hidup bersosialisasi yang baik, jadi tidak hanya perbedaan suku, bahasa, dan warna kulit, tetapi juga tentang bertoleransi terhadap agama lain pun kita bisa jumpai disini. UMM itu universitas yang multikultural jadi toleransi dalam kehidupan sangat di junjung tinggi disini.
                UMM juga memiliki slogan “ Jas Merah Kampus Putih”. Yang kalo menurut saya sih, ini wujud dari sikap nasionalis yang dimiliki oleh UMM. Pasti yang terlintas dipikiran saat mendengar slogan ini adalah bendera negara Indonesia, yakni Bendera merah putih. Jadi slogan ini merupakan wujud cinta UMM untuk Indonesia. Tuh sama Indonesia aja cinta, apalagi sama penerus bangsa Indonesia. Ya penerus bangsa nya tentu kita-kita ini sebagai generasi muda.  
                UMM memiliki 3 kampus yang terpisah. UMM juga memiliki sarana dan prasana yang gak kalah dari perguruan tinggi lain yang tentunya dapat menunjang perkuliahan menjadi lebih efektif. Gak hanya soal kuliah, UMM juga menyediakan tempat berilibur dan nongkrong yang asik, yakni Taman Rekreasi Sengkaling dan Sengkaling festival Food. Gak hanya soal kulaih dan senang-senang aja yang UMM sediakan.UMM juga punya rumah sakit lho ada juga medical center UMM, jadi walaupun kamu lagi sakit UMM tetap hadir dalam kehidupan. Sudah kebayang dong pastinya gimana perhatiannya UMM sama mahasiswa dan lingkungan sekitarnya. ^_^